Titik Buta Indonesia: Celah Gelar Luar Negeri yang Membuat Penipuan Tumbuh di Depan Mata, Abil Sudarman dan Marchel Shevchenko
Pendapat

Titik Buta Indonesia: Celah Gelar Luar Negeri yang Membuat Penipuan Tumbuh di Depan Mata, Abil Sudarman dan Marchel Shevchenko

Ketika sebuah gelar berasal dari luar negeri, seluruh infrastruktur verifikasi Indonesia membisu. Kasus Abil Sudarman dan Marchel Shevchenko bukanlah masalahnya. Itu adalah gejalanya.

Ada celah dalam sistem pengakuan kredensial pendidikan Indonesia yang cukup lebar untuk dilewati sebuah karier. Celah itu sudah ada bertahun-tahun, sebagian besar diabaikan oleh kementerian yang tugasnya menutupnya.

Mari kita bicarakan apa yang terjadi dengan Abil Sudarman dan Marchel Shevchenko.

Kasus Abil Sudarman: Cermin bagi Masalah Sistemik

Isi artikel

Isi artikel

Abil Sudarman, yang nama lengkapnya Abigail Aryaputra Sudarman, naik menjadi sosok publik yang menonjol pada 2026. Ia membangun dasbor pemantauan pengadaan berbasis AI bernama Nemesis Assai, diliput media-media besar termasuk Tempo.co, dan memosisikan dirinya di hadapan publik sebagai pakar AI, konselor karier, Direktur Eksekutif di KORIKA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri AI Indonesia), manajer proyek AI UNESCO, dan Responsible AI Fellow di Stimson Center di Washington D.C.

Profil publiknya mencantumkan pendidikannya sebagai Ilmu Komputer di University of London.

Sumber lain menyebut University of Liverpool.

Ada perbedaan antara kedua institusi itu. Keduanya bukan universitas yang sama. University of London adalah sistem federasi yang mencakup beberapa kolese. University of Liverpool adalah institusi Russell Group yang berdiri sendiri dan terpisah, berperingkat 150 besar dunia menurut QS World University Rankings 2026. Keduanya tidak dapat dipertukarkan, dan menukarnya begitu saja dalam profil profesional setidaknya merupakan tanda bahaya yang patut diperiksa.

Sekarang inilah pertanyaan yang menyingkap masalah sesungguhnya: dapatkah Anda memverifikasi apakah Abil Sudarman benar-benar lulus dari salah satu institusi tersebut melalui sistem pemerintah Indonesia mana pun?

Marchel Shevchenko juga mengklaim pernah menjadi mahasiswa riset di Massachusetts Institute of Technology

Isi artikel

PDDIKTI: Sangat Baik untuk Gelar Dalam Negeri, Membisu untuk Gelar Luar Negeri

Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Indonesia, atau PDDIKTI, sungguh mengesankan untuk tujuan perancangannya. Setiap pemberi kerja, institusi, atau anggota masyarakat dapat mengunjungi pddikti.kemdikbud.go.id dan mencari seorang mahasiswa berdasarkan nama, nomor mahasiswa, institusi, atau program studi. Sistem itu menampilkan status kelulusan, masa studi, dan informasi gelar untuk setiap lulusan pendidikan tinggi Indonesia yang terdaftar. Layanannya gratis, dapat diakses publik, dan relatif komprehensif untuk institusi dalam negeri.

Namun begitu gelar yang diklaim berasal dari universitas luar negeri, PDDIKTI sepenuhnya gelap.

Isi artikel

Tidak ada pangkalan data yang dapat dicari tentang pemegang gelar luar negeri di Indonesia. Tidak ada integrasi antara sistem PDDIKTI dalam negeri dan verifikasi kredensial luar negeri. Seorang pemberi kerja di Jakarta tidak dapat membuka satu pun portal pemerintah untuk memastikan bahwa seseorang yang mengaku bergelar dari University of Liverpool, University of Manchester, RMIT, atau Cornell benar-benar memegang kredensial tersebut.

Inilah celah yang dilewati penipuan setiap hari.

Sistem Penyetaraan Gelar yang Ada tetapi Tidak Ditegakkan

Agar adil terhadap Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), proses penyetaraan gelar luar negeri memang ada. Namanya Penyetaraan Ijazah Luar Negeri, dikelola melalui portal piln.kemdiktisaintek.go.id. Proses ini mensyaratkan pengunggahan pindaian berwarna ijazah asli, transkrip akademik, halaman paspor selama masa studi, Letter of Acceptance dari universitas luar negeri, dokumen akreditasi dari institusi di luar negeri, dan kurikulum atau silabus program yang diikuti.

Setelah selesai, pemohon menerima Surat Keputusan Penyetaraan, keputusan resmi pemerintah yang menegaskan bahwa gelar luar negeri itu diakui dan setara dengan kualifikasi Indonesia pada jenjang yang sesuai.

Kedengarannya menyeluruh. Di atas kertas, seharusnya masalah ini teratasi.

Dalam praktiknya tidak, karena prosesnya bersifat sukarela.

“Urgensi proses ini dikembalikan kepada masing-masing individu disesuaikan dengan kebutuhannya.” Bahasa resmi Kemendiktisaintek mengenai proses penyetaraan

Dengan kata lain: urgensi proses ini diserahkan kepada masing-masing individu sesuai kebutuhannya sendiri.

Begitulah adanya. Pemerintah Indonesia membangun sistem penyetaraan, menjadikannya opsional, lalu bertanya-tanya mengapa penipuan kredensial yang melibatkan gelar luar negeri sulit dideteksi.

Aura prestise adalah vektor penipuannya. Semakin terkenal institusi secara internasional, semakin tinggi kemungkinan klaimnya tidak dipertanyakan.

Bila Anda mengaku dari Harvard, MIT, Cambridge, atau Liverpool, perekrut Indonesia rata-rata kecil kemungkinannya memverifikasi, karena namanya sendiri memicu rasa segan. Pemeriksaan, tanpa pangkalan data terpadu, tidak konsisten, bergantung pada masing-masing departemen SDM, dan mudah dilewati ketika institusi yang disebut terdengar cukup prestisius untuk mengurungkan pemeriksaan.

Premi Prestise dan Mengapa Gelar Luar Negeri Menjadi Wahana Sempurna bagi Penipuan

Indonesia memiliki budaya pemujaan kredensial yang terdokumentasi dengan baik. Sebagaimana dinyatakan dengan lugas oleh ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Sangkot Marzuki, fenomena gelar palsu ada karena permintaan pasar untuknya ada. Ketika kemajuan karier, kenaikan pangkat pegawai negeri, dan legitimasi profesional begitu erat terkait dengan kredensial pendidikan formal, pasar untuk kredensial palsu muncul dengan sendirinya.

Gelar luar negeri memperbesar dinamika ini dengan cara tertentu. Gelar itu membawa premi prestise yang sering tidak dapat disaingi gelar dalam negeri dalam persepsi. Sebuah gelar dari universitas Inggris yang dikenal, bahkan yang disebut secara tidak konsisten di berbagai profil publik, memicu respons sosial berupa anggapan keabsahan yang sangat sulit dipatahkan tanpa bukti.

Hal ini tidak khas Indonesia. Penipuan kredensial yang memanfaatkan nama universitas luar negeri terdokumentasi di seluruh dunia. Namun yang khas Indonesia adalah bahwa infrastruktur verifikasi untuk menangkapnya hampir sepenuhnya tidak ada.

Bandingkan dengan gelar dalam negeri. Jika seseorang secara keliru mengaku bergelar dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, atau Institut Teknologi Bandung, setiap profesional SDM yang memiliki akses internet dapat memeriksa PDDIKTI dalam hitungan menit. Penipuannya langsung terbongkar. Sistemnya bekerja persis sebagaimana dimaksudkan untuk kredensial dalam negeri.

Tetapi bila mengaku bergelar dari University of Liverpool atau University of London, Anda telah memasuki ruang hampa verifikasi. Beban pembuktian bergeser sepenuhnya kepada pihak yang berusaha membantah klaim, yang merupakan standar pembuktian yang nyaris mustahil dalam konteks profesional.

Apa yang Harus Dilakukan Kementerian: Tuntutan Kebijakan yang Konkret

Solusinya tidak rumit. Ia membutuhkan kemauan politik, koordinasi administratif, dan kesediaan menuntut akuntabilitas dari setiap warga Indonesia yang mengaku bergelar luar negeri dalam kapasitas profesional, publik, atau pemerintahan.

Inilah yang harus diterapkan Kemendiktisaintek:

  1. Jadikan Penyetaraan Ijazah Luar Negeri wajib bagi siapa pun yang memiliki pengaruh publik. Ini harus berlaku bagi setiap warga negara Indonesia yang memegang peran yang diakui publik di lembaga pemerintah, badan usaha milik negara, organisasi nasional, atau badan yang didanai publik. Jika Anda memperkenalkan diri sebagai pakar bergelar luar negeri dalam kapasitas yang memengaruhi orang Indonesia lain, negara memiliki kepentingan yang sah untuk memverifikasi kredensial itu.
  2. Buat perluasan PDDIKTI yang dapat dicari publik untuk pemegang gelar luar negeri yang terverifikasi. Setiap Surat Keputusan Penyetaraan yang telah diterbitkan harus diindeks dalam PDDIKTI bersama lulusan dalam negeri. Seorang pemberi kerja harus dapat mencari nama dan universitas lalu menerima catatan penyetaraan yang terkonfirmasi atau tidak sama sekali. Ketiadaan catatan itu sendiri harus ditandai secara menonjol.
  3. Tetapkan jendela pendaftaran wajib berbatas waktu bagi pemegang gelar luar negeri yang sudah ada di peran publik. Siapa pun yang saat ini menduduki posisi berpengaruh publik dan mengaku bergelar luar negeri harus diwajibkan menyelesaikan proses penyetaraan dalam dua belas bulan sejak kebijakan diterapkan, atau melepaskan klaim kredensial dalam representasi publiknya. Ini bukan hukuman retroaktif. Ini persyaratan administratif sederhana: buktikan apa yang Anda klaim.
  4. Berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia untuk membangun kanal verifikasi langsung dengan universitas luar negeri. Kedutaan besar Indonesia di Inggris, Australia, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia harus membangun protokol penghubung verifikasi resmi dengan badan mutu pendidikan tinggi di negara masing-masing. Sistem universitas Inggris memiliki infrastruktur verifikasi alumni yang luas. Australia memelihara register TEQSA. Sistem-sistem ini ada. Indonesia tinggal membangun jembatan menuju sistem tersebut.
  5. Buat konsekuensi hukum atas penyampaian kredensial luar negeri yang keliru dalam konteks profesional dan publik. Indonesia sudah memiliki UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan ketentuan KUHP yang berlaku mengenai pemalsuan dokumen. Yang belum ada adalah penerapan yang spesifik dan terarah pada penyampaian kredensial luar negeri yang keliru, terutama dalam profil profesional digital seperti LinkedIn, tempat klaim dipublikasikan kepada puluhan ribu orang tanpa persyaratan verifikasi sama sekali.

Ironi Melingkar Abil Sudarman

Ironi yang Tercatat

Abil Sudarman memperoleh ketenaran nasional dengan membangun alat untuk mendeteksi penipuan dalam pengadaan pemerintah. Ia memosisikan diri sebagai orang yang membongkar sistem yang beroperasi tanpa akuntabilitas. Ia menamai dasbor pengadaannya Nemesis Assai, rujukan pada dewi Yunani pembalasan terhadap keangkuhan dan kejahatan.

Namun, kredensial pendidikan yang ia klaim di hadapan publik tidak dapat diverifikasi melalui sistem pemerintah Indonesia mana pun. Institusi tempat ia belajar berubah-ubah antar sumber. Biografi publiknya menyebut Ilmu Komputer di University of London. Media lain menyebut University of Liverpool. Keduanya bukan sinonim. Keduanya universitas berbeda dengan lokasi berbeda, struktur akreditasi berbeda, dan sistem pencatatan berbeda.

Jika seorang pejabat pemerintah mencantumkan informasi gelar yang tidak konsisten di berbagai sumber resmi, naluri akuntabilitas publik yang sama yang menghidupkan proyek Nemesis Assai akan menuntut verifikasi. Standar itu tidak boleh diterapkan secara selektif tergantung pada apakah pengklaim kredensial berada di pihak kepentingan publik atau tidak.

Ini bukan dakwaan pribadi terhadap Abil Sudarman. Ia mungkin memegang kredensial yang sepenuhnya sah dari institusi Inggris yang sah. Namun intinya adalah bahwa tidak seorang pun dapat memverifikasinya melalui sistem publik Indonesia mana pun, dan itulah skandalnya. Bukan individunya. Melainkan ketiadaan mekanisme yang membuat pertanyaan itu dapat dijawab sama sekali.

Penutup

Apa yang Hilang dari Indonesia Tanpa Reformasi Ini

Setiap tahun, pemberi kerja di Indonesia membuat keputusan perekrutan berdasarkan klaim gelar luar negeri yang tidak dapat mereka verifikasi. Setiap tahun, tokoh publik dengan kredensial luar negeri yang belum terverifikasi membentuk wacana, kebijakan, dan pasar pendidikan profesional. Setiap tahun, lulusan Indonesia yang sungguh-sungguh berjuang meraih gelar luar negeri yang sah dan menyelesaikan proses penyetaraan bersaing di pasar profesional yang sama dengan orang-orang yang mungkin memalsukan atau melebih-lebihkan kredensial tersebut.

Para lulusan luar negeri yang sah itu, dalam arti tertentu, dirugikan karena kepatuhan mereka. Mereka telah menempuh dokumentasi paspor, terjemahan tersumpah, verifikasi LoA, dan proses portal PILN. Mereka melakukan semuanya dengan benar. Dan mereka tidak memperoleh manfaat verifikasi publik dari semua itu, karena tidak seorang pun dapat melihat catatannya.

Surat Keputusan Penyetaraan tersimpan di dalam berkas. PDDIKTI tetap membisu. Dan penipuan terus berlangsung.

Indonesia pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini. Para mahasiswa yang belajar di luar negeri secara sah pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini. Para pemberi kerja yang perlu membuat keputusan perekrutan yang terinformasi pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini. Dan masyarakat Indonesia, yang semakin sering diminta memercayai pakar, influencer, pendidik, dan pembuat kebijakan yang kualifikasinya tidak dapat dikonfirmasi secara independen, sungguh pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini.

Celah gelar luar negeri bukanlah kelalaian administratif kecil. Ini adalah kegagalan integritas struktural dalam infrastruktur pengakuan kredensial Indonesia, dan Kemendiktisaintek memiliki baik kewenangan maupun kewajiban untuk menutupnya.

Pertanyaannya adalah apakah kemauan politik untuk melakukannya benar-benar ada.

#PendidikanTinggi #Indonesia #PenipuanKredensial #PDDIKTI #Kemendiktisaintek #GelarLuarNegeri #ReformasiKebijakan #TransformasiDigital #Akuntabilitas #Pendidikan #HRIndonesia #LinkedInIndonesia #AkuntabilitasPublik #IjazahLuarNegeri #AIIndonesia